Ada sebuah pepatah yang berbunyi demikian, “Jika Anda ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tetapi jika Anda ingin berjalan jauh dan lama, berjalanlah bersama-sama”. Sepintas, berjalan sendiri itu memang terasa menyenangkan. Sebab, tidak perlu menunggu dan memikirkan orang lain, bebas menentukan kecepatan sendiri, bahkan tidak perlu berkompromi dengan isi kepala orang lain. Kendati demikian, sejarah dan realitas kehidupan membuktikan bahwa orang yang berjalan sendirian akan lebih cepat lelah, cepat tumbang, dan ketika ia menghadapi badai di tengah jalan, cenderung lebih mudah menyerah.
Berbeda dengan orang yang berjalan bersama-sama dengan orang lain. Memang, ia harus turut memikirkan orang lain, berjalan menyesuaikan batas kemampuan orang lain. Namun, pada saat menghadapi tantangan, mereka cenderung mampu bertahan lebih lama karena ada yang mendukung dan memotivasi.
Saudara yang terkasih. Hari ini merupakan penutupan penghayatan Pekan Pendidikan Kristen (Pepenkris) 2026. Bersama kita diajak merayakan sebuah kesadaran baru: bahwa tugas bersaksi (khususnya melalui pendidikan kristiani) adalah tugas dengan jangka waktu selamanya. Oleh karena itu, kesadaran ini harusnya menolong kita untuk bersedia berjalan bersama saling memperhatikan, mendukung dan memotivasi satu sama lain. Kita diajak untuk melangkah bersama dan bertumbuh bersama. Sebab, demikianlah nasehat seorang pengajar Israel yang tertulis dalam bacaan hari ini.
Sekilas perlu kita ketahui bahwa kitab pengkotbah ini seringkali dipahami sebagai narasi putus asa dari seorang pengajar Israel, yaitu bahwa “toh ujung dari hidup di dunia ini adalah kesia-siaan belaka”. Yang semula mendapat, toh akan menjadi kehilangan, yang semula memiliki, toh akan menjadi hampa sia-sia. Namun dibalik segala keluh kesahnya, penulis kitab ini pada akhirnya memberikan Nasehat yang sangat baik (Ay. 9-10), yaitu “berdua lebih baik daripada seornang diri (berjalan bersama)”. Pertanyaannya, mengapa berjalan bersama itu lebih baik? Bacaan ini setidaknya menunjukkan 2 alasan. Yaitu:
1. Saat engkau jatuh, ada yang mengangkatnya. Kalimat ini menyadarkan kita bahwa hidup di dunia ini memang dinamis. Sementara, kita sendiri adalah manusia yang rentan. Jadi bisa dibayangkan, manusianya rentan sementara dunianya kejam. Disinilah maka benar apa yang dinasehatkan pengajar Israel dalam kitab ini. Yaitu bahwa melangkah berdua (bersama) lebih baik daripada seorang diri. Sebab, di dalamnya akan terjadi upaya-upaya untuk saling menguatkan, mendoakan, menolong, mempedulian, dst. Dengan demikian, akan menolong setiap umat-Nya untuk tidak mudah menyerah terhadap berbagai badai dan tantangan untuk terus bersaksi di dunia ini.
2. Saat engkau tidur, ada yang memberi kehangatan. Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kehangatan relasi dan rasa aman. Dengan berjalan bersama, kita akan dimampukan untuk menyadari bahwa keberadaan orang lain di sekitar kita adalah kepanjangan tangan Tuhan untuk membagikan kehangatan dan rasa aman dalam melaksanakan tugas penggilan kesaksian ini. Dengan begitu, kita tidak akan merasa berjalan sendiri, dan tidak mudah merasa lelah dan putus asa dalam upaya kesaksian nilai-nilai Kristus di dunia ini.
Demikianlah maka berjalan bersama lebih baik daripada seorang diri, karena akan menolong kita untuk bertumbuh bersama. Mengingat bahwa pembahasan ini secara khusus berkaitan dengan panggilan kesaksian melalui pendidikan Kristiani, maka pertanyaan berikutnya adalah siapakah orang-orang yang harus berjalan bersama untuk bertumbuh bersama? Tentunya; Gereja, Sekolah Kristen, Yayasan, dan seluruh umat Tuhan di muka bumi ini. Semuanya dipanggil untuk menyatukan visi, berjalan bersama demi berlangsungnya kesaksian pendidikan Kristiani, untuk dapat bertumbuh bersama. Amin
🙏
Mari Berdoa
Tuhan, terima kasih atas firman-Mu yang menjadi pelita bagi langkah kami.
Bantulah kami untuk menerapkan kebenaran ini dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.