Minggu Pra-paskah VI hari ini, bersama dengan gereja-gereja di seluruh dunia, kita menghayati 2 perayaan gerejawi sekaligus. Yaitu Minggu Sengsara dan Minggu Palmarum. Keduanya sangat berkelindan. Demikian penjelasannya; Pada minggu ini, umat diajak menghayati bagaimana Yesus akan segera mengalami saat-saat yang sangat berat untuk memenuhi janji penyelamatan Allah bagi dunia (Minggu Sengsara). Pemenuhan janji itu diawali dengan kesediaannya datang/masuk ke kota Yerusalem dalam kerendahan hati yang ditandai dengan mengendarai seekor keledai bukan kuda (Minggu Palmarum). Memang, ketika Yesus memasuki Yerusalem, banyak orang Yahudi yang menyambut-Nya dengan lambaian daun sebagai tanda kehadiran Sang Raja, tetapi IA tidak menghiraukannya, sebab bukan tentang kedigdayaan kuasa yang hendak ditunjukkan, melainkan pemenuhan janji dengan merendahkan diri menjadi korban keberingasan dosa manusia.
Saudara yang dikasihi Tuhan, melalui peristiwa tersebut kita dapat belajar sesuatu sebagaimana yang disaksikan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (Filipi 2:5-11). Janji-Nya yang hendak memulihkan seluruh ciptaan (penyelamatan), tidak diingkari melainkan digenapi/dipenuhi. Tetapi menaraiknya, Pemenuhan janji itu tidak dilakukan dengan cara pamer kekuatan dan kuasa lalu bertindak semena-mena. Sebaliknya, janji itu dipenuhi dengan cara merendahkan diri, hadir menjadi manusia yang mengosongkan diri untuk dikorbankan (2:6-8). Dengan demikian, pemulihan memang tidak akan pernah berhasil tanpa adanya pengorbanan. Pengorban tidak akan pernah terjadi tanpa kesediaan merendahkan diri sekalipun sebenarnya punya kekuatan dan kuasa yang jauh lebih besar.
Dengan demikian, kita belajar 2 hal tentang bagaimana Allah memenuhi janji penyelamatan-Nya. yaitu:
1. Merendahkan diri. Merendahkan diri adalah suatu tindakan merendah yang disengaja dan dengan ketulusan demi perbaikan relasi (rekonsiliasi). Artinya, tidak perlu berupaya membela diri, tidak perlu bersikeras untuk menyatakan bahwa dirinya punya kekuatan dan kuasa yang lebih untuk bertindak semena-mena.
2. Mau berkorban. Kemauan berkorban adalah cara yang paling tepat untuk melakukan pemulihan relasi (rekonsiliasi). Artinya, tidak perlu bersikeras mencari kesalahan pihak lain, melainkan memberi diri berkorban demi pemenuhan solusi rekonsiliasi yang terbaik bagi kebersamaan.
Tuhan Yesus sudah melakukannya untuk pemulihan relasi kita dengan Allah, sesama manusia dan segenap ciptaan. Kini, panggilan bagi kita adalah meneladan apa yang diperbuat-Nya, sebagaimana nasehat Paulus dalam ayat 5 βHendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,β Amin.
π
Mari Berdoa
Tuhan, terima kasih atas firman-Mu yang menjadi pelita bagi langkah kami.
Bantulah kami untuk menerapkan kebenaran ini dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.
π’ Bagikan Renungan Ini